MAKNA DAN SYARAT “LAA ILAAHA ILLALLAH”

Makna la ilaaha illallah

Makna la ilaaha illallah

Makna laa ilaaha illallah:

Kalimat “La ilaaha illallah” mempunyai makna tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah. [Lihat aqidah at-Tauhid karya Asy-Syaikh Shalih Bin Fauzan Bin Abdullah al-Fauzan ~hafizahullah~ hal.50-51]

Syarat-syarat Laa ilaaha illallah:

  1. Mengetahui makna Laa ilaaha illallahu, baik apa yang ditiadakan oleh kalimat tersebut maupun apa yang ditetapkan olehnya.
  2. Yakin yaitu kesempurnaan pengetahuan tentang kalimat tersebut yang menghilangkan keraguan dan kebimbangan.
  3. Ikhlas yang menghilangkan kesyirikan.
  4. Jujur yang menghilangkan kedustaan dan mencegah kemunafikan.
  5. Mencintai kalimat tauhid dan kepada apa yang dikandungnya serta berbahagia karenanya.
  6. Tunduk dengan konsekuensi-konsekuensi dari kalimat tersebut yaitu mengamalkan kewajiban secara ikhlash karena Allah dalam rangka mencari keridhaan-Nya.
  7. Menerima kalimat tersebut yang menghilangkan sikap penolakan.

[Syarat Laa ilaaha illallah diringkas Ibnu Mukhtar dari kitab At-Tanbihaat al-mukhtasharah syarh al-waajibbat al-mutahattimat al-ma’rifah ‘alaa kulli muslim wa muslimah oleh Syaikh Ibrahim bin asy-Syaikh Shalih bin Ahmad al-Khuraishi hal.33-40]

Catatan kajian malam sabtu di masjid Al-Furqon Vila Nusa Indah

Tauhid adalah Tempat Berlindung Bagi Semua Makhluk

Tauhid adalah Tempat Berlindung Bagi Semua Makhluk, sekaligus Benteng dan Penolong Mereka

Tauhid bisa menjadi tempat berlindung bagi musuh-musuh Allah sekaligus menjadi tempat berlindung bagi para pembela-NYA. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Tauhid adalah tempat berlindung bagi musuh-musih-NYA; yakni tauhid dapat menyelamatkan orang-orang musrik dari segala kesulitan dan malapetaka dunia sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala yang artinya:

“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdo’a kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-NYA, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” QS. Al-Ankabuut: 65

Adapun perlindungan bagi para pembela-NYA; yakni tauhid bisa menyelamatkan orang yang beriman dari segala kesulitan dan malapetaka dunia akhirat.

Kaum beriman pengikut para Rasul yang bertauhid; mereka diselamatkan dari kekejaman orang-orang musrik di dunia dan dari adzab yang disiapkan untuk kaum musrik tersebut di akhirat.

Demikian sunatulah yang ditetapkan bagi para hambanya-NYA. Tidak ada senjata yang lebih ampuh untuk menolak kesulitan-kesulitan di dunia selain tauhid. Oleh karena itulah, berdo’a ketika dilanda kesedihan mengandung makna tauhid. Kita ingat do’a yang dimohonkan oleh Nabi Yunus. Apabila do’a tersebut dibaca oleh orang yang sedang kesulitan niscaya Allah subhanahu wata’ala akan menghilangkan kesulitan itu, dikarenakan tauhidullah yang terkandung di dalamnya.

Jadi tidak ada sesuatu yang dapat menjerumuskan seseorang kedalam kesulitan besar selain kemusrikan. Sebaliknya, tidak ada sesuatu yang dapat menyelamatkan seseorang dari kesulitan besar melainkan Tauhid saja.

Diambil dari: Fawaidul Fawaid karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah

 

Perintah dan Musibah

Perintah dan Musibah. Kasih sayang secara batin merupakan buah dari mu’amalah bathiniyah.

Seorang hamba Allah tidak akan terlepas dari perintah dan musibah dari-NYA. Ketika menerima dan melaksanakan perintah Ia membutuhkan bahkan sangat membutuhkan pertolongan-NYA. Sedangkan ketika mendapatkan musibah, ia sangat membutuhkan uluran kasih sayang-NYA.

Kasih sayang yang ia dapatkan ketika ditimpa musibah sebanding dengan sejauhmana kadar perintah Allah yang dikerjakannya. Jika dia melaksanakan perintah itu secara sempurna, lahir dan batin, niscaya ia akan mendapatkan kasih sayang secara lahir dan batin pula. Akan tetapi jika perintah itu dilaksanakan dalam bentuk lahirnya saja, tanpa mencakup hakikatnya, niscaya ia hanya akan memperoleh kasih sayang secara lahiriah saja. Hanya sedikit sekali kasih sayang secara batin yang diraihnya.

Seperti apakah kasih sayang secara batin yang diperoleh hamba ketika ditimpa musibah? Kasih sayang secara batin adalah sesuatu yang akan menciptakan ketenangan dan kedamaian, serta menghilangkan keresahan, kegundahan, dan keluh kesah dari hati hamba ketika tertimpa musibah.

Pengakuan terhadap kasih sayang Allah telah menyibukkan dirinya dari kepedihan deritanya. Dan keyakinannya tentang kebaikan takdir Allah membuatnya tidak merasakan lagi pahit musibahnya.

Sumber: Fawaidul Fawaid karya Ibn Qayyim al-Jauziyyah

Bagaimana meningkatkan kadar perintah Allah yang kita kerjakan, sehingga sempurna lahir dan batin? Kuncinya adalah keikhlasan dan melaksanakannya sesuai tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam. Tanpa kedua hal itu amal ibadah akan tertolak dan kasih sayang dari Allah pun tidak kita dapatkan.

Hal demikian berlaku untuk semua jenis ibadah, termasuk ibadah haji dan umroh. Untuk itu kita harus pastikan ibadah kita ikhlas semata-mata karena mencari ridho Allah dan lakukan ibadah tersebut sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam.

Kami siap membantu Anda melaksanakan Ibadah Haji dan Umroh sesuai sunnah. Insya Allah.

Hubungi:

Ahmad Haris; Hp: 08118701025, atau

Silahkan Tulis pesan atau pertanyaan Disini!!