Larangan-Larangan Haji & Hukumnya: Jika dilanggar Wajib baginya membayar Dam

Larangan-Larangan Haji & Hukumnya: Jika dilanggar Wajib baginya membayar Dam

Laranangan Haji - Potong Rambut

Laranangan Haji – Potong Rambut

Larangan-larangan haji yaitu seluruh amal perbuatan yang dilarang dikerjakan. Jika seorang jamaah haji mengerjakannya, ia wajib membayar Dam atau denda. Larangan-larangan haji ini berlaku juga bagi yang sedang melaksanakan Umroh.

Larangan Haji ini lebih tepatnya disebut larangan-larangan Ihram, kenapa? Karena larangan haji ini belaku pada saat jemaah haji atau jamaah umroh masih diwajibkan memakai kain Ihram. Adapun larangan haji yang harus dijauhi adalah:

Larangan Haji yang umum untuk laki-laki dan perempuan

  1. Mencabut rambut atau memotong kuku. Mencabut berarti disengaja, jika tidak disengaja maka tidak dikenakan denda.
  2. Mempergunakan wangi-wangian dibadannya atau pakaiannya, begitu juga pada makanan dan minumannya. Adapun jika ada sisa wangi-wangian yang ia pergunakan saat sebelum ihram, maka tidak mengapa.
  3. Membunuh binatang buruan atau menghalaunya atau membantu orang yang berburu, selagi ia masih dalam keadaan ihram.
  4. Memotong pepohonan atau mencabut tanaman yang masih hijau di tanah Haram, begitu juga memungut barang temuan, kecuali jika bermaksud untuk mengumumkannya. Karena Rasulullah saw melarang semua perbuatan tersebut. Larangan ini berlaku juga bagi yang tidak berihram.
  5. Meminang atau melangsungkan akad nikah, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Begitu juga mengadakan hubungan dengan istri atau menjamahnya dengan syahwat selama ia dalam keadaan Ihram
Larangan Haji - Membunuh Binatang

Larangan Haji – Membunuh Binatang

Larangan Haji yang berlaku hanya untuk kaum pria

  1. Mengenakan tutup kepala yang melekat. Adapun menggunakan paying atau berteduh dibawah atap kendaraan atau membawa barang-barang diatas kepala, tidaklah mengapa.
  2. Memakai kemeja dan semacamnya yang berjahit untuk menutupi seluruh badannya atau sebagiannya, begitu juga jubah, sorban, celana dan sepatu, kecuali tidak mendapatkan sarung lalu memakai celana, atau tidak mendapatkan sandal kemudian mengenakan sepatu, maka tidak mengapa baginya.

Larangan Haji khusus buat wanita

Bagi wanita diharamkan saat ihram untuk menggunakan sarung tangan dan menutup mukanya dengan cadar atau kerudung. Tetapi bila ia berhadapan muka dengan kaum pria yang bukan mahram, maka wajib ia menutup mukanya dengan kerudung atau semacamnya, sebagaimana kalau ia tidak berihram.

Apabila terlanjur mengenakan pakaian berjahit, atau menutup kepalanya, atau mempergunakan wangi-wangian, atau mencabut rambutnya, atau memotong kukunya karena lupa atau tidak mengetahui hukumnya, maka ia tidak dikenakan Dam. Dan hendaklah segera menghentikan perbuatan-perbuatan tadi disaat ingat atau mengetahui hukumnya.

Yang tidak termasuk Larangan Haji

Bagi yang sedang berihram, boleh mengenakan sandal, cincin, kacamata, alat pendengar (headphone), jam tangan, ikat pinggang biasa, ikat pinggang bersaku untuk menyimpan uang dan surat-surat.

Dan boleh juga berganti pakaian Ihram dan mencucinya, serta mandi dan membasuh kepala. Apabila lantaran mandi dan membasuh kepala tadi terdapat rambut rontok tanpa disengaja, maka ia tidak dikenakan Dam, begitu juga halnya bila ia terkena luka.

Hukum Melanggar Larangan Haji

Bila seseorang melanggar larangan haji seperti: menutup kepala dengan penutup apapun, mencukur rambut, memotong kuku, menggunakan wangi-wangian, mengenakan pakaian berjahit, ia wajib membayar fidyah, yaitu puasa tiga hari, atau memberi makan enam orang miskin dan setiap orang miskin mendapatkan satu genggam gandum.

Bila seseorang membunuh hewan daratan, hukumnya adalah menggantinya dengan binatang ternak yang seimbang dengan hewan yang dibunuhnya.

Bila seseorang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada hubungan suami istri, pelakunya harus membayar Dam yaitu menyembelih kambing. Adapun melakukan hubungan suami istri, maka akan merusak hajinya. Namun pelakunya tetap disunnahkan meneruskan aktifitas hajinya hingga selesai dan pelakunya harus membayar unta. Jika tidak ada puasa sepuluh hari dan ia harus mengulangi hajinya pada tahun-tahun yang lain.

Adapun melangsungkan pernikahan, melamar, dan semua dosa misalnya menggunjing, mengadu domba, dan semua perbuatan fasik lainnya, pelakunya harus bertaubat dan beristighfar.

Ingin tahu lebih jauh tentang Ibadah Haji dan Umroh sesuai sunnah? Klik Disini!

Memerlukan Travel Haji dan Umroh Sesuai Sunnah?

Kami dari Medina Wisata Travel siap mengantarkan Jamaah Haji dan Umroh secara profesional dan sesuai Sunnah. Kami Siap Berikan Layanan Terbaik Untuk Anda!

Untuk informasi lebih lanjut silahkan Hubungi Kami:

 

Comments

  1. nurudin says

    rasanya ada sedikit kesilapan dalam artikel, tertulis

    “member makan enam puluh orang miskin ”

    sepatutnya

    “memberi makan enam orang miskin “

    • ahmadharis says

      Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
      Toyyib… Jazakaallahu Khair atas koreksinya…
      artikel sudah kami revisi..

    • ahmadharis says

      Assalamu’alaikum.
      Sebelumnya kami ucapkan Jazaakallah Khair atas perhatian dan kepeduliannya.

      Kalimat: “memberi makan enam puluh orang miskin” sumbernya dari buku ENSIKLOPEDI MUSLIM MINHAJUL MUSLIM terbitan darulFalah versi Indonesia dari buku Minhajul Muslim karya Syeikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi.
      Dalam buku Minhajul Muslim karya Abu Bakr Jabir Al-Jazairi yang dalam versi Indonesia berjudul: Ensiklopedi Muslim Minhajul Muslim halaman 441 tertulis: “Hukum larangan-larangan diatas adalah sebagai berikut, jika orang yang sedang ihram mengerjakan larangan nomer satu sampai dengan nomer lima (1. Menutup kepala dengan penutup apapun, 2. Mencukur rambut kendati sedikit, rambut kepala atau rambut lainnya, 3. Memotong kuku, kuku kedua tangan atau kuku kedua kaki, 4. Menyentuh wewangian, 5. Mengenakan pakaian berjahit secara mutlak ), ia wajib membayar fidyah, yaitu puasa tiga hari, atau memberi makan enam puluh orang miskin dan setiap orang miskin mendapatkan satu genggam gandum, … dst
      Kami sedang menunggu konfirmasi dari penerbit mengenai hal ini. Bila sudah ada konfirmasi akan diinformasikan disini, Insya Allah
      Mungkin demikian yang bisa kami sampaikan. Allahu A’lam

    • ahmadharis says

      Alhamdulillah, Kami sudah dapat jawaban dari Penerbit DarulFalah:

      Jawaban pertama:

      Wa’alaikumussalam wr wb.

      Terimakasih atas atensinya. Insya Allah segera kami sampaikan penjelasannya.

      Wassalamu’alaikum wr wb.

      Selanjutnya:

      Mohon maaf atas kesalahan dalam terjemahan buku tersebut. yang benar 6 orang miskin.
      bukan 60 orang. insya Allah akan kami revisi pada cetakan berikutnya. Jazakallahu khairan katsir. Terima kasih atas koreksinya.

      Wassalamu’alaikum wr wb.

      Jazaakallah Khairan Katsiro, atas koreksi dari Akhi Nurudin, semoga menjadi baik untuk semua, amin
      Kamipun akan segera merevisi tulisan kami. Astaghfirullahal Adziim

  2. Abdul Gafur says

    Informasinya sangat bermanfaat.
    Selanjutnya saya ingin bertanya, sehubungan dengan adanya pertanyaan dari teman saya yang sekarang berada di Mekah. Temanku itu sepasang suami isteri. Dia bertanya, apakah setelah umrah (Tawaf dan As’i dan Tahalul)setibanya dari Madinah di Mekkah, selama menunggu datangnya waktu Wukuf di Arofah, boleh berhubungan suami isteri? Merak ragu-ragu, karena ada yang bilang boleh ada yang bilang tidak boleh. Yang bilang tidak boleh beralasan, tahulul setiab di Mekah itu disebut tahalul awal. BBaru boleh stetelah rahalul Tsani. Sedangkan yang bilang boleh berpendapat bahwa istilah Tahalul Awala adalah tahalul tg 10 Zulhijag saat selesai lempar jumroh Aqobah. Terima kasih atas penjelasannya.

    • ahmadharis says

      Assalamu’alaikum.

      Maaf agak lama menjawabnya.

      Larangan Haji dan Umroh adalah larangan ketika atau saat melaksanakan salah satu ibadah tersebut.
      Jika kita sudah menyelesaikan ibadah tersebut maka, selanjutnya anda diperbolehkan melakukan hal-hal yang tadinya menjadi larangan ihrom.

      apabila anda memasuki ibadah haji maka, setelah melakukan lempar jumroh aqobah dan bercukur gundul (diutamakan) namanya telah melakukan tahallul awwal. kondisi ini boleh mengenakan pakaian biasa (dari ihrom sebelumnya) dan boleh melakukan hal-hal yang tadinya termasuk larangan ihrom kecuali berhubungan suami istri.
      lalu setelah thawaf ifadah sa’i maka ini disebut tahallul tsani. baru boleh melakukan hubungna suami istri.

      dari kasus yang ada adalah seseoramg sudah selesai melakukan umroh menunggu saatnya ibadah haji maka sudah boleh melakukan hal-hal yang tadinya menjadi larangan ihrom termasuk hubungan suami istri.

      wallaahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>