Tauhid Uluhiyah: Meng – Esa – kan Allah dalam beribadah

Tauhid Uluhiyah: Meng – Esa – kan Allah dalam beribadah

Tauhid Uluhiyah

Tauhid Uluhiyah

Tauhid Uluhiyah yaitu mengesakan Allah dengan melakukan bebagai macam ibadah yang disyari’atkan.  Seperti berdo’a, memohon pertolongan kepada Allah, menyembelih binatang qurban, bernadzar termasuk ibadah Haji dan Umroh.

Perjalanan Haji dan Umroh ini penuh dengan pengorbanan baik fisik maupun mental, harta yang tidak sedikit, waktu dan tenaga.  Jadi sangatlah rugi jika ujung-ujungnya haji kita tidak diterima bahkan jatuh kedalam kesyirikan. Na’udzubillah Tsumma Na’udzubillah.  Oleh karena sangatlah penting untuk memahami tauhid uluhiyah ini.

Dalam Al-Qur’anul Karim banyak keterangan kita temukan  tentang Tauhid Uluhiyah ini.  Diantaranya, agar setiap muslim berdo’a dan meminta hajat khusus kepada Allah semata.  Dalam surat Al-Fatihah Allah berfirman, (yang artinya)

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (Al-fatihah: 5)

Maksudnya, khusus kepada-MU (ya Allah) kami beribadah, hanya kepada-MU semata kami berdo’a dan kami sama sekali tidak memohon pertolongan kepada selain-MU.

Tauhid Uluhiyah ini mencakup masalah berdo’a semata-mata hanya kepada Allah, mengambil hukum dari Al-Qur’an, dan tunduk berhukum kepada syari’at Allah.  Semua itu terangkum dalam firman Allah, (yang artinya)

“Sesungguhnya AKU ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak untuk disembah) selain AKU maka sembahlah AKU.” (Thaahaa: 14)

Tauhid Uluhiyah inilah yang diingkari oleh orang-orang kafir.  Dan ini pula yangmenjadi sebab perseteruan dan pertentangan antara umat-umat terdahulu dengan para rasul mereka, sejak Nabi Nuh ‘Alaihis Salam hingga diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasalam.

Beberapa contoh penyimpangan Tauhid ini disela-sela Ibadah Haji dan Umroh:

  1. Mengusap dinding-dinding dan tiang-tiang besi ketika menziarahi kubur Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasalam, dan mengikatkan benang-benang atau semacamnya pada jendela-jendela untuk mendapatkan berkah.  Padahal keberkahan itu hanyalah terdapat pada hal-hal yang disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-NYA Shallallahu ‘Alaihi Wasalam, bukan pada hal-hal yang bid’ah.
  2. Pergi ke gua-gua di bukit Uhud, begitu juga ke gua Hira dan gua Tsur di Mekkah, dan mengikatkan potongan-potongan kain di tempat-tempat itu, disamping membaca berbagai do’a yang tidakdiperkenankan olehAllah, serta bersusah payah untuk melakukan hal-hal tersebut.
  3. Menziarahi beberapa tempat yang dianggapnya sebagai tanda peninggalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam, seperti tempat mendekamnya unta Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasalam, sumur Khatamatau sumur Utsman, dan mengambil pasir dari tempat-tempat tersebut dengan mengharapkan berkah.
  4. Memohon kepada orang-orang yang sudah mati ketika berziarah ke pekuburan Baqi’ dan Suhada Uhud, serta melemparkan uang ke pekuburan itu untuk mendekatkan diri dan mengharapkan berkah dari penghuninya. Ini termasuk kesalahan fatal, bahkan para ulama menyebutkan bahwa hal itu termasuk perbuatan syirik besar.
  5. Dan masih banyak lagi penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, baik di Mekkah, Madinah dan tempat lainnya.

Dengan memahami Tauhid Uluhiyah ini, semoga kita terhindar dari penyimpangan-penyimpangan tersebut dan semoga Haji kita termasuk Haji yang Mabrur sehingga berhak mendapatkan Surga sebagai balasannya. Dan semoga Ibadah Umroh kita Umroh Maqbullah – Umroh yang diterima disisi Allah dimana antara Umroh yang satu dengan Umroh lainnya akan menghapuskan dosa-dosa diantara keduanya. Amiin

Disamping pengetahuan atau ilmu dalam perjalanan Ibadah Haji ataupun Ibadah Umroh kiranya kita memerlukan pemandu sehingga selalu diingatkan oleh pembimbing Ibadah kita. Dalam memilih biro haji dan umroh kita harus selektif diantaranya adalah kita harus tahu sejauh mana biro haji yang kita pilih perhatian pada masalah-masalah seperti ini.

Speak Your Mind

*

Related Post!!close