Melaksanakan Umroh Berulang Kali dalam Satu Safar

Melaksanakan Umroh Berulang Kali dalam Satu Safar

Hanya ada satu kisah mengenai umroh berulang kali  dalam satu kali perjalanan, yaitu ketika Aisyah datang bulan pada waktu menunaikan ibadah haji bersama Nabi Shallallahu’alaihi wasalam, maka rasulullah Shallallahu’alaihi wasalam memerintahkan saudara Aisyah yang bernama Abdurrahman bin Abu Bakar mengantar Aisyah ke daerah Tan’im agar ia memulai ihram untuk umroh dari sana, karena ia menyangka bahwa umroh yang dilakukan berbarengan dengan haji, maka akan batal, sehingga kemudian ia menangis. Maka Rasululah Shallallahu’alaihi wasalam mengizinkan Aisyah untuk melakukan umroh lagi demi menenangkan hatinya.

Imam Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan, Nabi Shallallahu’alaihi wasalam tidak pernah ber-Umroh dengan cara keluar dari daerah Mekkah ke tanah halal, kemudian masuk Mekkah lagi dengan niat umroh, sebagaimana layaknya yang dipraktekkan banyak orang sekarang. Padahal tak satupun riwayat yang sah yang menerangkan ada seorang sahabat melakukan yang demikian itu.”

Daripada menyibukkan diri dengan pergi keluar ke daerah Tan’im dan sibuk dengan amalan-amalan umroh yang baru sebagaimana tambahan bagi umroh sebelumnya, maka yang lebih utama adalah melakukan Thawaf di sekeliling Baitullah. Dan sudah dimaklumi bahwa waktu yang tersita dari orang yang pergi ke Tan’im untuk memulai ihram untuk umroh yang baru dapat ia manfaatkan mengerjakan Thawaf dengan ratusan kali keliling Ka’bah.

Jadi jelas bahwa thawaf di Baitullah jauh lebih afdhal daripada jalan-jalan yang tidak memiliki dasar pijakan yang kuat.

Pendapat yang mengatakan tidak disyariatkannya melakukan umroh berulang kali dalam satu safar inilah yang ditunjukkan oleh sunnah Nabawiyah yang bersifat ‘amaliyah dan ditopang oleh Fi’il, perbuatan para sahabat Radhiyallahu’anhum.

Nabi kita Shallallahu’alaihi wasalam pernah bersabda:

“Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para kalifah yang mendapat petunjuk dan terbimbing sepeninggalku; hendaklah kalian menggigitnya dengan gigi gerahammu.” (Sunan Abu Daud II: 398 no.4607)

Memang untuk melakukan ibadah harus disertai dengan Ilmu, “Ilmu sebelum berkata dan beramal.” Disamping ilmu jug teman, karena ibadah haji atau umroh sangat perlu teman atau jamaah. Jika kita bergabung dalam jamaah yang sesuai sunnah tentunya akan lebih mudah dan lebih semangat dalam melaksanakannya. Bagaimana jika kita bergabung dengan jamaah yang ibadahnya masih campuran? Walaupun katakanlah kita sudah tahu ilmunya, tapi akan banyak subhat atau keragu-raguan yang ada. Kita akan beribadah sesuai sunnah tapi sendirian atau bersama tapi ibadahnya campuran. “Tidak enaklah minimal”

Untuk itu kami mencoba untuk memfasilitasi bagi jamaah yang ingin menunaikan ibadah haji atau umroh sesuai sunnah tapi nyaman. Bagi yang berniat haji atau umroh sesuai sunnah kami persilahkan untuk menghubungi:

Ahmad haris, Hp 08118701025, atau

Bisa menulis PESAN atau pertanyaan DISINI!!

 

Note: diambil dari buku Al-Wajiz karya ‘Abdul ‘Azim bin Badawi Al-Khalafi

Speak Your Mind

*

Related Post!!close